Senin, 24 Januari 2011

Budaya dan kesehatan

BAB I


PENDAHULUAN
1.1 Larat Belakang


Suatu hal yang tidak dapat di pungkiri dari Negara Indonesia adalah dengan keanekaragaman budayanya,dimasing masing bagaian daerah di indonesia memiliki budaya budaya yang berbeda, selain itu sistem norma yang berlakau di masyarakat pun berbeda pula.
Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal Portugis di Banten pada abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang gujarat dan pesisir jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban yang ada di Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban ini pada dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal ditengah-tengah singgungan antar peradaban itu.
Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara paralel. Misalnya kebudayaan kraton atau kerajaan yang berdiri sejalan secara paralel dengan kebudayaan berburu meramu kelompok masyarakat tertentu. Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana kebudayaan masyarakat urban dapat berjalan paralel dengan kebudayaan rural atau pedesaan, bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang hidup jauh terpencil. Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkai ”Bhinneka Tunggal Ika” , dimana bisa kita maknai bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu kepada keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan

Kami memilih judul ”Norma dan Nilai Budaya terhadap Kesehatan” karena kami ingin mengupas lebih lanjut tentang topik ini,mengingat berbagai keanekaragaman sosial kultural yang sangat majemuk di negara indonesia.
Makalah ini merefleksikan tentang suatu keadaan yang mana terjadi keanekaragaman social budaya, kami juga mengupas tentang penerapan norma norma dan nilai nilai budaya dalam penerapanya dalam kehidupan bermasyarakat di lingkungan sekitar.
Mengapa Sampai timbul keanekaragaman budaya dan norma? Sebuah pertanyaan yang begitu kita cermati sangat lah menarik.
Setelah kita menjelaskan tentang Nilai dan Norma, tentu akan timbul pertanyaan ”apa pengaruh nilai dan norma terhadap kesehatan?”
Disinilah kami akan memaparkan semuanya tentang nilai dan norma serta pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat.
Selain itu kami menulis makalah ini juga untuk mengembangkan intelektualitas kami dalam hal berfikir kritis dan menjeneralisasi terhadap suatu pokok masalah.
Kebutuhan lain ditulisnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas ujian akhir semester mata kuliah antropologi dan sosiologi keperawatan.


1.2 Rumusan Masalah

Sebua pertanyaan yang kita sering dengar adalah tentang nilai dan norma yang ada di tengah tengah mesyarakat, kita sering kali mendengar perkataan “Apa hubungan antara nilai dan norma budaya terhadap kesehatan?”
Itu sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang sangat logis, mengingat manusia moderen kini dituntut untuk berfikir secara rasional instrumental dan terarah, jadi segala sesuatu harus dapat dibuktikan secara ilmiah dan memiliki tingkat ke akurasian yang sangat tinggi.
Masyarakat moderen identik dengan pengemudi pada mobil, mereka dapat menemukan sebuah pemahaman pemahaman baru tentang dunia kesehatan. Banyak nya ahli kesehatan membuat budaya tradisional perlahan lahan mulai ditinggalkan.
Pokok pembahasan mkalah ini adalah tentang ”Apa dan Bagaimana Pengaruh nilai dan norma budaya terhadap kesehatan”
Selebihnya kami akan berusaha untuk memaparkan itu semua pada Bab II yang berisikan tentang Tinjauan pustaka dan bagaimana kami akan berusaha untuk menjelaskan apa isinya.
Sebuah pemahaman yang dapat kami jelaskan tentang pandangan dari berbagi sumber yang kemudian akan kami coba untuk mengembangkannya.


1.3 Tujuan

Makalah yang berjudulkan ”Norma dan Nilai Budaya Terhadap Kesehatan” kami buat untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara nilai dan norma budaya terhadap kesehatan, yang mana topik ini kami pilih karena untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester ANTROPOS yang dibina oleh Ibu Esti Widani,Skep,Ns.
Topik ini sangatlah sesuai dengan bidang kesehatan, yang mana dalam sebuah bidang kesehatan pasti memiliki hubungan yang sangat erat dengan bidang sosio cultural.
Tentunya dalam makalah ini kami berusaha untuk menjelaskan beberapa aspek yang berkaitan dengan Budaya dan Kesehatan, sebuah topik yang menurut kami sangatlah menarik perhatian dan memicu hasrat kami untuk mengupasnya secara lebih lanjut.
Semoga makalah yang kami sajika dalam bentuk sederhana ini mampu menjadikan kami semua lebih mendalami tentang hubungan budaya dengan kesehatan.dan yang terpenting adalah manfaat mkalah ini bagi kami dalam memenuhi tugas makalah ANTROPOS.

1.4 Manfaat

Makalah yang kami sajikan semoga dapat menjadikan bahan referensi dalam pembuatan karya karya tulis lanjutan, yang mana dalam sebuah system perlulah pemahaman yang mendalam tentang sebuah topic.Kami berusaha menjelaskan dengan bahasa awam yang kami peroleh dari berbagai sumber.
Adapun penyusunan makalah ini kami buat dalam rangka memenuhi tugas akhir semester ganjil yang dilaksanakan di Universitas Tribhuana Tunggadewi Malang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadikan tambahan nilai tugas kami dalam Ujian Akhir Semester.
Sebuah kerja keras tentunya dalam penyusunan makalah ini, tentunya kami berharap semoga makalah ini dapat dijadikan pertimbangan tentang nilai mata kuliah Antropologi dan Sosiologi pada Ujian Akhir ini.






















BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1.1.Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" d Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain Dalam wacana kebudayaan dan sosial, sulit untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal, mengingat ini akan terkait teks dan konteks, namun secara etimologi dan keilmuan, tampaknya para pakar sudah berupaya merumuskan sebuah definisi terhadap local culture atau local wisdom ini. Sebagai sebuah kajian, kemudian saya pun mempelajari dan mencoba mengaitkannya pada konteks yang ada. Definisi budaya lokal yang pertama saya ambil adalah berdasarkan visualisasi kebudayaan ditinjau dari sudut stuktur dan tingkatannya. Berikut adalah penjelasannya :
Superculture, adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Contoh: kebudayaan nasional;
Culture, lebih khusus, misalnya berdasarkan golongan etnik, profesi, wilayah atau daerah. Contoh : Budaya Sunda;
Subculture, merupakan kebudyaan khusus dalam sebuah culture, namun kebudyaan ini tidaklah bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya gotong royong
Counter-culture, tingkatannya sama dengan sub-culture yaitu merupakan bagian turunan dari culture, namun counter-culture ini bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya individualisme

Dilihat dari stuktur dan tingkatannya budaya lokal berada pada tingat culture. Hal ini berdasarkan sebuah skema sosial budaya yang ada di Indonesia dimana terdiri dari masyarakat yang bersifat manajemuk dalam stuktur sosial, budaya (multikultural) maupun ekonomi.

Jacobus Ranjabar (2006:150) mengatakan bahwa dilihat dari sifat majemuk masyarakat Indonesia, maka harus diterima bahwa adanya tiga golongan kebudayaan yang masing-masing mempunyai coraknya sendiri, ketiga golongan tersebut adalah sebagai berikut:
Kebudayaan suku bangsa (yang lebih dikenal secara umum di Indonesia dengan nama kebudayaan daerah)
Kebudayaan umum lokal
Kebudayaan nasional

Dalam penjelasannya, kebudayaan suku bangsa adalah sama dengan budaya lokal atau budaya daerah. Sedangkan kebudayaan umum lokal adalah tergantung pada aspek ruang, biasanya ini bisa dianalisis pada ruang perkotaan dimana hadir berbagai budaya lokal atau daerah yang dibawa oleh setiap pendatang, namun ada budaya dominan yang berkembang yaitu misalnya budaya lokal yang ada dikota atau tempat tersebut. Sedangkan kebudayaan nasional adalah akumulasi dari budaya-budaya daerah.

Definisi Jakobus itu seirama dengan pandangan Koentjaraningrat (2000). Koentjaraningrat memandang budaya lokal terkait dengan istilah suku bangsa, dimana menurutnya, suku bangsa sendiri adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan ’kesatuan kebudayaan’. Dalam hal ini unsur bahasa adalah ciri khasnya.

Pandangan yang menyatakan bahwa budaya lokal adalah merupakan bagian dari sebuah skema dari tingkatan budaya (hierakis bukan berdasarkan baik dan buruk), dikemukakan oleh antropolog terkemuka di Indonesia yang beretnis Sunda, Judistira K. Garna.

Menurut Judistira (2008:141), kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentukan kebudayaan nasional.

Lebih lanjut, mengenai budaya lokal dan budaya nasional, Judistira mengatakan bahwa dalam pembentukannya, kebudayaan nasional memberikan peluang terhadap budaya lokal untuk mengisinya. Adapun definisi budaya nasional yang mempunyai keterkaitan dengan budaya lokal adalah sebagai berikut:
Kebudayaan kebangsaan (kebudayaan nasional) berlandaskan kepada puncak-puncak kebudayaan daerah,
Kebudayaan kebangsaan ialah gabungan kebudayaan daerah dan unsur-unsur kebudayaan asing,
Kebudayaan kebangsaan menurut rekayasa pendukung kebudayaan dominan melalui kekuasaan politik dan ekonomi: dan
Kebudayaan kebangsaan dibentuk dari unsur-unsur kebudayaan asing yang modern dalam mengisi kekosongan dan ketidaksepakatan dari berbagai kebudayaan daerah (Judistira, 2008:41)

Pembatasan atau perbedaan antara budaya nasional dan budaya lokal atau budaya daerah diatas menjadi sebuah penegasan untuk memilah mana yang disebut budaya nasional dan budaya lokal baik dalam konteks ruang, waktu maupun masyarakat penganutnya.

Dalam pengertian yang luas, Judistira (2008:113) mengatakan bahwa kebudayaan daerah bukan hanya terungkap dari bentuk dan pernyataan rasa keindahan melalui kesenian belaka; tetapi termasuk segala bentuk, dan cara-cara berperilaku, bertindak, serta pola pikiran yang berada jauh dibelakang apa yang tampak tersebut.

Wilayah administratif tertentu, menurut Judistira bisa merupakan wilayah budaya daerah, atau wilayah budaya daerah itu meliputi beberapa wilayah administratif, ataupun disuatu wilayah admisnistratif akan terdiri dari bagian-bagian satu budaya daerah.

Wilayah administratif atau demografi pada dasarnya menjadi batasan dari budaya lokal dalam definisinya, namun pada perkembangannya dewasa ini, dimana arus urbanisasi dan atau persebaran penduduk yang cenderung tidak merata, menjadi sebuah persoalan yang mengikis definisi tersebut.

Dalam pengertian budaya lokal atau daerah yang ditinjau dalam faktor demografi dengan polemik di dalamnya, Kuntowijoyo memandang bahwa wilayah administratif antara desa dan kota menjadi kajian tersendiri. Dimana menurutnya, kota yang umumnya menjadi sentral dari bercampurnya berbagai kelompok masyarakat baik lokal maupun pendatang menjadi lokasi yang sulit didefinisikan. Sedangkan di wilayah desa, sangat memungkinkan untuk dilakukan pengidentifikasian.

Dikota-kota dan di lapisan atas masyarakat sudah ada yang kebudayaan nasional, sedangkan kebudayaan daerah dan tradisional menjadi semakin kuat bila semakin jauh dari pusat kota. Sekalipun inisiatif dan kreatifitas kebudayaan daerah dan tradisional jatuh ke tangan orang kota, sense of belonging orang desa terhadap tradisi jauh lebih besar. (Kuntowijoyo,2006:42)

Dalam pengkritisan definisi yang berdasarkan pada konteks demografi ini, Irwan Abdullah memberikan pandangannya :

Etnis selain merupakan konstruksi biologis juga merupakan konstruksi sosial dan budaya yang mendapatkan artinya dalam serangkaian interaksi sosial budaya. Berbagai etnis yang terdapat diberbagai tempat tidak lagi berada dalam batas-batas fisik (physical boundaries) yang tegas karena keberadaan etnis tersebut telah bercampur dengan etnis-etnis lain yang antar mereka telah membagi wilayah secara saling bersinggungan atau bahkan berhimpitan. (Abdullah, 2006:86)

Walaupun adanya interaksi antara budaya pendatang dan masyarakat lokal, pada hakekatnya definisi budaya lokal berdasarkan konteks wilayah atau demografis pada hakekatnya tetap masih relevan walaupun tidak sekuat definisi pada konteks suku bangsa. Hal ini seperti yang dikatakan Irwan Abdullah selanjutnya :

Keberadaan suatu etnis disuatu tempat memiliki sejarahnya secara tersendiri, khususnya menyangkut status yang dimiliki suatu etnis dalam hubungannya dengan etnis lain. Sebagai suatu etnis yang merupakan kelompok etnis pendatang dan berinteraksi dengan etnis asal yang terdapat disuatu tempat, maka secara alami akan menempatkan pendatang pada posisi yang relatif lemah. (Abdullah, 2006:84)

Merujuk pada beberapa pandangan sejumlah pakar budaya dan atau antropolog diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa budaya lokal dalam definisinya didasari oleh dua faktor utama yakni faktor suku bangsa yang menganutnya dan yang kedua adalah faktor demografis atau wilayah administratif.

Namun, melihat adanya polemik pada faktor demografis seiring dengan persebaran penduduk, maka penulis akan lebih menekankan definisi budaya lokal sebagai budaya yang dianut suku bangsa, misalnya Budaya Sunda (budaya lokal) adalah budaya yang dianut oleh Suku Bangsa Sunda, hal ini bisa ditentukan oleh minimal bahasa yang digunakan.

1.2. Kesehatan dan keanekaragaman budaya
Kesehatan Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan agama tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok sukubangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke modern, dan kewilayahan.
Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal Portugis di Banten pada abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang gujarat dan pesisir jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban yang ada di Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban ini pada dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal ditengah-tengah singgungan antar peradaban itu.
Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara paralel. Misalnya kebudayaan kraton atau kerajaan yang berdiri sejalan secara paralel dengan kebudayaan berburu meramu kelompok masyarakat tertentu. Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana kebudayaan masyarakat urban dapat berjalan paralel dengan kebudayaan rural atau pedesaan, bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang hidup jauh terpencil. Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkai ”Bhinneka Tunggal Ika” , dimana bisa kita maknai bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu kepada keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan.
Didasari pula bahwa dengan jumlah kelompok sukubangsa kurang lebih 700’an sukubangsa di seluruh nusantara, dengan berbagai tipe kelompok masyarakat yang beragam, serta keragaman agamanya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang sesungguhnya rapuh. Rapuh dalam artian dengan keragaman perbedaan yang dimilikinya maka potensi konflik yang dipunyainya juga akan semakin tajam. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat akan menjadi pendorong untuk memperkuat isu konflik yang muncul di tengah-tengah masyarakat dimana sebenarnya konflik itu muncul dari isu-isu lain yang tidak berkenaan dengan keragaman kebudayaan. Seperti kasus-kasus konflik yang muncul di Indonesia dimana dinyatakan sebagai kasus konflik agama dan sukubangsa. Padahal kenyataannya konflik-konflik tersebut didominsi oleh isu-isu lain yang lebih bersifat politik dan ekonomi. Memang tidak ada penyebab yang tunggal dalam kasus konflik yang ada di Indonesia. Namun beberapa kasus konflik yang ada di Indonesia mulai memunculkan pertanyaan tentang keanekaragaman yang kita miliki dan bagaimana seharusnya mengelolanya dengan benar.
Bukan oleh beberapa faktor termasuk warisan genetik, perilaku pribadi, akses terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu, dan lingkungan eksternal umum (seperti kualitas udara, air, dan kondisi perumahan). Selain itu, pertumbuhan badan penelitian telah mendokumentasikan asosiasi antara dan faktor sosial budaya dan kesehatan ( Berkman dan Kawachi, 2000 , Marmot dan Wilkinson, 2006 ). Untuk beberapa jenis variabel sosial, seperti status sosial ekonomi (SES) atau kemiskinan, bukti kuat link mereka untuk kesehatan telah ada sejak awal catatan resmi menjaga. Untuk jenis lain dari variabel-seperti jaringan sosial dan dukungan sosial atau pekerjaan stres-bukti hubungan mereka untuk kesehatan telah terakumulasi selama 30 tahun terakhir. Tujuan bab ini adalah untuk memberikan gambaran dari variabel-variabel sosial yang telah diteliti sebagai masukan untuk kesehatan (faktor penentu sosial apa yang disebut kesehatan), serta untuk menggambarkan pendekatan untuk pengukuran mereka dan bukti empiris yang menghubungkan setiap variabel hasil kesehatan.
Harus ditekankan di awal bahwa faktor penentu sosial dari kesehatan dapat dikonseptualisasikan sebagai mempengaruhi kesehatan di berbagai tingkat sepanjang perjalanan hidup. Jadi, misalnya, kemiskinan dapat dikonseptualisasikan sebagai eksposur yang mempengaruhi kesehatan individu pada berbagai tingkat organisasi dalam keluarga atau dalam lingkungan di mana individu berada. Lebih dari itu, berbagai tingkat pengaruh dapat co-terjadi dan berinteraksi dengan satu sama lain untuk menghasilkan kesehatan. Sebagai contoh, dampak merugikan kesehatan tumbuh di keluarga miskin dapat diperkuat jika keluarga yang juga terjadi berada dalam komunitas yang kurang beruntung (di mana keluarga miskin lainnya) bukan di komunitas kelas menengah. Selanjutnya, kemiskinan mungkin diferensial dan independen mempengaruhi kesehatan individu pada tahapan yang berbeda dari kehidupan saja (misalnya, di dalam rahim, masa bayi dan masa kanak-kanak, selama kehamilan, atau selama usia tua).
Singkatnya, pengaruh dan variabel sosial budaya terhadap kesehatan melibatkan dimensi baik waktu (tahapan kritis dalam perjalanan hidup dan efek dari pajanan kumulatif) serta tempat (beberapa tingkat eksposur). Konteks di mana variabel sosial dan budaya beroperasi untuk mempengaruhi hasil kesehatan disebut, umum, dan lingkungan sosial budaya.
1.3. Konsep Kesehatan
Konsep sehat dan upaya kesehatan yang dianut dunia telah banyak bergeser. Di Indonesia, pergeseran cara penanganan kesehatan masyarakat tak bisa cepat diikuti karena kekurangan orang yang mampu menerjemahkan berbagai konsep kesehatan menjadi kebijakan yang bisa diterapkan.
Hal itu mengemuka dalam diskusi "Masalah Kesehatan Nasional" yang diprakarsai Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) dalam rangka ulang tahunnya ke-36, Senin (1/7). Diskusi diikuti para pakar kesehatan masyarakat dari berbagai universitas, anggota DPR, organisasi nonpemerintah maupun pejabat instansi terkait dengan kesehatan.
Dekan FKM-UI Prof Dr dr Sudarto Ronoatmodjo menyatakan, sistem kesehatan yang dulu ditujukan untuk memelihara kesehatan fisik dan mental kini bergeser untuk mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya (goodness) dengan perbedaan antar-individu dan kelompok sekecil mungkin (fairness).

Upaya kesehatan, demikian guru besar FKM-UI Prof dr Does Sampoerno MPH menambahkan, kini tidak lagi sebagai health program for survival tetapi sebagai health program for human development. "Untuk mempertahankan dan meningkatkan upaya pembangunan diperlukan sumber daya manusia yang tidak sekadar tidak sakit, tetapi sehat dan produktif. Tahun 1988 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasukkan unsur sehat/produktif sosial dan ekonomi dalam definisi sehat," papar Does.
Indikator kemajuan suatu negara yang digunakan internasional adalah Human Development Index (HDI), terdiri dari kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Tahun 1990 Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mencanangkan Decade of Human Development dan tahun 1992 dinyatakan sebagai The Year of Human Development.
Untuk itu, upaya kesehatan tidak lagi hanya kuratif tetapi juga promotif dan preventif. Upaya kesehatan untuk pembangunan manusia bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan melainkan perlu kerja sama lintas sektor. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 menyatakan, tujuan pembangunan untuk meningkatkan SDM berkualitas. Tetapi kebijakan penyelenggaraan upaya kesehatan masih belum berubah, masih menekankan upaya kesehatan kuratif.
Perubahan baru dicanangkan secara resmi pada Rapat Kerja Kesehatan Masyarakat 1 Maret 1999. Presiden (ketika itu) Habibie mencanangkan Gerakan Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan. Juga Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional, yaitu Paradigma Sehat dan Indonesia Sehat 2010.
Sosialisasi tak lancar
Keterbatasan dana menyebabkan upaya penyebarluasan paradigma sehat dan kebijakan program Indonesia Sehat 2010 tidak lancar. Krisis berkepanjangan dan banjir menguras dana Departemen Kesehatan. Upaya kesehatan yang semula ditekankan pada upaya "penyelamatan dan reformasi" terasa lebih banyak pada "penyelamatan" lewat Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK).

Analisa dan pembahasan kebijakan baru serta upaya sosialisasi makin kabur. Peraturan pemerintah yang memuat kebijakan kesehatan tingkat pusat dan provinsi tidak pernah dibahas secara mendalam. Bahkan, saat ini terasa kecenderungan pemerintah kabupaten dan kota menetapkan sendiri kebijakan yang terkait dengan program-program yang telah didesentralisasikan.
Menanggapi hal ini, Prof Dr dr Umar Fahmi Achmadi MPH dari FKM-UI yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan menyatakan, saat ini terasa kurang orang-orang yang mampu menerjemahkan konsep-konsep menjadi kebijakan yang bisa diterapkan.
Indonesia Sehat 2010 sering keliru dipersepsikan sebagai target untuk menyehatkan seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2010. Padahal, Indonesia Sehat 2010 adalah dokumen program kesehatan yang dijalankan di Indonesia. Saat ini sedang dilakukan penjabaran pokok-pokok program menjadi program pokok, standar pelayanan minimal, juga penetapan tolok ukur dan indikator kemajuan kesehatan.
Umar mengakui kesulitan untuk menerapkan indikator kemajuan kesehatan di daerah karena ada euforia otonomi daerah. Untuk itu pihaknya melakukan roadshow ke daerah dalam rangka advokasi dan penyebarluasan program Indonesia Sehat 2010. (atk)
1.4. Masalah Kesehatan di Indonesia

Kesehatan adalah aset jangka panjang, tapi di Indonesia kesehatan bukan menjadi prioritas pemerintah. Sehingga jangan heran kalau masalah-masalah kesehatan dasar tidak pernah mengalami kemajuan.

Sebuah penelitian independen yang dilakukan menemukan bagaimana kondisi kesehatan di Indonesia. Dalam penelitian ini juga diberikan beberapa solusi yang dapat digunakan dalam mengatasi masalah tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit (EIU) yang disponsori oleh General Electric (GE) dan dilaporkan dalam 'Old Problems, fresh solutions: Indonesia's new health regime'.
"Di Indonesia, kesehatan bukan menjadi prioritas. Secara kebijakan, anggaran kesehatan di Indonesia selama 40 tahun tidak pernah lebih dari 3 persen dan jumlah ini masih di bawah anggaran untuk BBM dan listrik yang mencapai 6 kali lipatnya," ujar Prof Hasbullah Thabrany, selaku Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI dalam acara konferensi 'Healthymagination' di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (29/9/2010).
Prof Hasbullah menuturkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sebagian besar warga adalah yang memiliki kualitas tinggi dengan pengeluaran rendah (high quality-low cost).
Dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap tantangan utama dalam sistem layanan kesehatan di Indonesia dan sejumlah solusi yang dapat digunakan untuk mengatasinya. Penelitian ini melibatkan interview dengan pemerintah, profesional medis dan akademisi di Indonesia.
Ada beberapa kunci hasil penelitian yang dilaporkan, yaitu:
1. Memperluas pelayanan kesehatan ke daerah pedesaan adalah tantangan utama
Bentuk geografis dari pulau-pulau di Indonesia menjadikan perluasan pelayanan kesehatan memiliki tantangan lebih besar dibandingkan dengan negara lain.

Sebagai contoh, pada tahun 2006 di daerah perkotaan 1 dokter untuk 2.763 penduduk, sedangkan di daerah pedesaan 1 dokter untuk 16.792 penduduk. Sebagai konsekuensinya, tingkat kesehatannya masih buruk.
2. Anggaran kesehatan rendah, tetapi pengeluarannya tinggi
Pelayanan asuransi masih langka dan biaya kesehatan harus ditanggung langsung oleh pasien, hal ini karena anggaran pelayanan kesehatan yang dimiliki masih rendah.
Data terakhir menunjukkan hanya sekitar setengahnya yang berasal dari pemerintah, dengan sepertiga dibayar sendiri oleh masyarakat dan sisanya berasal dari asuransi atau sumber lain.
3. Pemerintah berkomitmen untuk berubah
Meskipun memiliki sejumlah masalah, pemerintah tetap berkomitmen untuk bisa mencapai MDGs (Millenium Development Goals) dan meningkatkan pengeluaran untuk pelayanan kesehatan.
Salah satu komitmen pemerintah yang didukung adalah skema asuransi kesehatan yang disebut dengan Jamkesmas, pemerintah berharap asuransi ini dapat memperluas pelayanan kesehatan di masyarakat.
4. Bayaran yang lebih baik untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik
Salah satu masalah kesehatan yang akut di Indonesia adalah pendistribusian tenaga kesehatan yang tidak baik. Di daerah pedesaan masih ada yang kekurangan dokter umum dan spesialis seperti ginekologi, dokter penyakit dalam dan dokter anestesi.
Pemerintah berupaya mengatasinya dengan memberikan bayaran lebih tinggi bagi dokter yang mau bekerja jauh dari perkotaan. Namun hal ini belum memberikan dampak yang berarti.

5. Mencegah lebih baik daripada mengobati
Investasi infrastruktur dasar seperti penyediaan air bersih yang mencukupi dan sanitasi, penambahan rumah sakit adalah suatu hal yang vital, tapi para ahli menuturkan pemerintah daerah tidak selalu bisa menggunakan dengan baik dana yang ada.
Karenanya seringkali fokus pencegahan seperti edukasi mengenai keluarga berencana dan nutrisi (perubahan gaya hidup yang berhubungan dengan merokok dan penyakit jantung) bisa memberikan hasil yang lebih baik.
6. Inovasi adalah penyelesaian yang sangat penting untuk masalah pelayanan kesehatan di Indonesia
Inovasi untuk mengurangi biaya dan memperluas cakupan teknologi kesehatan dapat menjadi kunci dalam membantu mengatasi permasalah pelayanan kesehatan di Indonesia.
Inovasi ini bisa meliputi desain ulang mesin yang sangat kompleks sehingga tidak hanya lebih mudah dioperasikan, tapi juga dapat mengurangi biaya produksi.
1.5. Kesehatan Tradisional
“Suwe ora jamu, jamu godhong telo ………” mungkin sebagian besar dari kita tidak asing mendengar lagu tersebut, tapi kita tidak bicara masalah lagu tersebut, akan tetapi tentang jamu. Di masyarakat indonesia khususnya masyarakat jawa, jamu merupakan obat alternatif yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dimana pertama kali jamu dikenalkan di lingkungan keraton Jogjakarta dan Surakarta.
Jadi jaman dulu jamu merupakan resep rahasia keraton. Seiring dengan perkembangan jaman, jamu mulai dikenal di masyarakat sampai dengan sekarang dan dianggap sebagai salah satu warisan leluhur yang harus dilestarikan.

Sejak dulu Indonesia terkenal dengan kekayaan alamnya, tanah yang subuh dengan beraneka ragam kekayaan hayatinya. Bahan-bahan jamu sendiri diambil dari tumbuh-tumbuhan baik dari akar, daun, batang, bunga maupun kulit kayu.
Jamu digunakan untuk mendapatkan kesehatan serta menyembuhkan berbagai penyakit serta digunakan pula sebagai perawatan kecantikan muka dan tubuh.
Di jaman moderen sekarang ini jamu masih tetap mendapat tempat di hati konsumennya, bahkan sudah berkembang menjadi industri besar dan dengan kemasan yang instan sehingga konsumen lebih mudah dalam mengkonsumsinya.
1.6. Budaya Hidup Sehat
Budayakan Hidup Sehat - Dijaman seperti sekarang ini kesehatan adalah sesuatu yang amat sangat berharga, bagaimana tidak?lihat saja sekarang Rumah sakit yang biayanya semakin tidak terjangkau karena sudah berorientasi pada bisnis semata tanpa mengenal kemanusiaan, yang berduit yang bisa berobat, yang sakit dan miskin tunggu aja waktunya. Mungkin pameo tersebut bisa menggambarkan kondisi sekarang ini. Nah lantas bagaimana agar hal tersebut tidak terjadi??menurut saya adalah budayakan hidup sehat, karena hanya dengan pola hidup sehat akan mempertipis kemungkinan untuk sakit, mencegah lebih baik daripada mengobati kan??
Membudayakan hidup sehat juga tidak terlalu sulit sebenarnya, yang sulit adalah menata niat untuk memulainya. Tak perlu repot menghitung kalori atau memilah-milah makanan. Dengan cermat memilih warna bahan makanan, makan roti gandum dan makan makanan selingan bisa menjadi solusi hidup sehat. Coba saja cara-cara mudah lainnya!
Terkadang banyak orang beranggapan hidup sehat itu repot. Memulai diet pun jadi hal yang berat karena sudah membayangkan apa saja makanan yang tidak boleh dimakan dan harus menyiapkan makanan yang sering tidak disukai. Padahal kalau dicermati lebih baik, diet bisa jadi hal yang menyenangkan. Hidup sehat pun bisa di dapat tanpa beban.

Berikut ini terdapat lima cara yang bisa Anda lakukan untuk mendapatkan tubuh yang sehat melalui pola makan, diantaranya:
1. Perhitungkan Warna Makanan
Kebanyakan orang selalu melihat jumlah kalori dalam makanan. Mulai sekarang, coba perhatikan juga berapa jenis warna yang terdapat dalam satu porsi makanan. Seperti apa saja jenis sayuran yang dimakan dalam satu hari. Jangan sampai makanan yang dikonsumsi terlalu 'pucat' tidak ada warna warni sayuran di dalamnya. Semakin banyak warna sayuran yang dikonsumsi akan semakin baik, karena pertanda antioksidan, vitamin dan serat yang dikonsumsi pun semakin banyak juga.
2. Makanan Selingan
Selain makan cukup 3 kali sehari, juga perlu makanan selingan. Biasanya makanan selingan ini bisa dikonsumsi sekitar pukul 10 pagi atau pukul 4 sore. Hal ini guna menghindari perut yang terlalu kosong dan lapar, sehingga membuat Anda kalap ketika waktu makan tiba. Makanan selingan ini bisa berupa biskuit gandum atau pun biskuit sayuran yang bis amenjaga peruta tetap terisi.
3. Perbanyak Serat Saat Sarapan
Serat yang cukup saat sarapan pagi akan membuat perut kenyang sampai waktu makan siang tiba. Hal ini bisa disiasati dengan mengkonsumsi sereal atau oatmeal yang dipadu dengan potongan buah seperti pisang dan juga strawberry. Jika tidak bisa mengkonsumsi sereal, roti bisa jadi penggantinya. Pilih roti yang terbuat dari tepung gandum, dan padukan dengan selai kacang ataupun selai buah.
4. Makanan Peredam Lapar
Jika Anda termasuk orang yang tidak bisa tahan dengan rasa lapar, pastikan selalu ada camilan di lemari pendingin Anda. Camilan yang dipilih adalah camilan sehat seperti buah-buahan yang bisa meredam rasa lapar Anda. Seperti apel, pepaya, pisang, strawberry, peach, dll.
5. Mengontrol Diri
Selain jenis makanan yang dikonsumsi, hal terpenting dalam menjalankannya adalah diri sendiri. Bagaimana bisa mengontrol setiap makanan yang masuk dan bisa mengerem konsumsi makanan tersebut jika dirasa sudah berlebihan. Disiplin terhadap diri membuat diet sehat berhasil dijalani.
Macam-macam kesehatan
1. Kesehatan Fisik
Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2. Kesehatan Mental
Kesehatan mental atau kesehatan jiwa mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

3. Kesehatan Sosial
Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
4. Kesehatan Ekonomi
Sehat jika ditinjau dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku
Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.


1.8 Kesehatan dalam Sosial Budaya

Seperti kita ikuti bersama, akhir-akhir ini diskusi tentang global change banyak diangkat. Berbagai perubahan sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan politik mengharuskan jalinan hubungan di antara masyarakat manusia di seluruh dunia. Fenomena ini dirangkum dalam terminologi globalisation. Ditengah riuh rendah globalisasi inilah muncul wacana Dampak Perubahan Sosial dan Budaya. Dampak dari perubahan sosial dan budaya sendiri diartikan sebagai perubahan dalam skala besar pada sistem bio-fisik dan ekologi yang disebabkan aktifitas manusia. Perubahan ini terkait erat dengan sistem penunjang kehidupan planet bumi (life-support system). Ini terjadi melalui proses historis panjang dan merupakan agregasi pengaruh kehidupan manusia terhadap lingkungan, yang tergambar misalnya pada angka populasi yang terus meningkat, aktifitas ekonomi, dan pilihan-pilihan teknologi dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Saat ini pengaruh dan beban terhadap lingkungan hidup sedemikian besar, sehingga mulai terasa gangguan-gangguan terhadap Sistem Bumi kita.
Perubahan sosial dan budaya yang terjadi seiring tekanan besar yang dilakukan manusia terhadap sistem alam sekitar, menghadirkan berbagai macam risiko kesehatan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Sebagai contoh, kita terus mempertinggi konsentrasi gas-gas tertentu yang menyebabkan meningkatkan efek alami rumah kaca (greenhouse) yang mencegah bumi dari pendinginan alami (freezing). Selama abad 20 ini, suhu rata-rata permukaan bumi meningkat sekitar 0,6oC dan sekitar dua-per-tiga pemanasan ini terjadi sejak tahun 1975. Dampak perubahan sosial dan budaya penting lainnya adalah menipisnya lapisan ozon, hilangnya keaneragaman hayati (bio-diversity), degradasi kualitas lahan, penangkapan ikan melampaui batas (over-fishing), terputusnya siklus unsur-unsur penting (misalnya nitrogen, sulfur, fosfor), berkurangnya suplai air bersih, urbanisasi, dan penyebaran global berbagai polutan organik. Dari kacamata kesehatan, hal-hal di atas mengindikasikan bahwa kesehatan umat manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi di luar batas kemampuan daya dukung ruang lingkungan dimana mereka hidup.
Dalam skala global, selama seperempat abad ke belakang, mulai tumbuh perhatian serius dari masyarakat ilmiah terhadap penyakit-penyakit yang terkait dengan masalah lingkungan, seperti kanker yang disebabkan racun tertentu (toxin related cancers), kelainan reproduksi atau gangguan pernapasan dan paru-paru akibat polusi udara. Secara institusional International Human Dimensions Programme on Global Environmental Change (IHDP) membangun kerjasama riset dengan Earth System Science Partnership dalam menyongsong tantangan permasalahan kesehatan dan Dampak dari perubahan sosial dan budaya.
Pengaruh perubahan iklim global terhadap kesehatan umat manusia bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kerja keras dan pendekatan inter-disiplin diantaranya dari studi evolusi, bio-geografi, ekologi dan ilmu sosial. Di sisi lain kemajuan teknik penginderaan jauh (remote sensing) dan aplikasi-aplikasi sistem informasi geografis akan memberikan sumbangan berarti dalam melakukan monitoring lingkungan secara multi-temporal dan multi-spatial resolution. Dua faktor ini sangat relevan dengan tantangan studi dampak perubahan sosial dan budaya terhadap kesehatan lingkungan yang memerlukan analisa historis keterkaitan dampak perubahan sosial dan budaya dan kesehatan serta analisa pengaruh perubahan sosial dan budaya di tingkat lokal, regional hingga global.
B. Bagaimana Perubahan Sosial dan Budaya Mempengaruhi Kesehatan Manusia?
Ada tiga alur tingkatan pengaruh perubahan sosial dan budaya terhadap kesehatan. Pengaruh ini dari urutan atas ke bawah menunjukkan peningkatan kompleksitas dan pengaruhnya bersifat semakin tidak langsung pada kesehatan. Pada alur paling atas, terlihat bagaimana perubahan pada kondisi mendasar lingkungan fisik (contohnya: suhu ekstrim atau tingkat radiasi ultraviolet) dapat mempengaruhi biologi manusia dan kesehatan secara langsung (misalnya sejenis kanker kulit). Alur pada dua tingkatan lain, di tengah dan bawah, mengilustrasikan proses-proses dengan kompleksitas lebih tinggi, termasuk hubungan antara kondisi lingkungan, fungsi-fungsi ekosistem, dan kondisi sosial-ekonomi.
Alur tengah dan bawah menunjukkan tidak mudahnya menemukan korelasi langsung antara perubahan lingkungan dan kondisi kesehatan. Akan tetapi dapat ditarik benang merah bahwa perubahan-perubahan lingkungan ini secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab atas faktor-faktor penyangga utama kesehatan dan kehidupan manusia, seperti produksi bahan makanan, air bersih, kondisi iklim, keamanan fisik, kesejahteraan manusia, dan jaminan keselamatan dan kualitas sosial. Para praktisi kesehatan dan lingkungan pun akan menemukan banyak domain permasalahan baru di sini, menambah deretan permasalahan pemunculan toksi-ekologi lokal, sirkulasi lokal penyebab infeksi, sampai ke pengaruh lingkungan dalam skala besar yang bekerja pada gangguan kondisi ekologi dan proses penyangga kehidupan ini. Jelaslah bahwa resiko terbesar dari dampak perubahan sosial dan budaya atas kesehatan dialami mereka yang paling rentan lokasi geografisnya atau paling rentan tingkat sumber daya sosial dan ekonominya.
C. Aktifitas Penduduk bagi Kesehatan
Sebagaimana disinggung di atas, masyarakat manusia sangat bervariasi dalam tingkat kerentanan terhadap serangan kesehatan. Kerentanan ini merupakan fungsi dari kemampuan masyarakat dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim dan lingkungan. Kerentanan juga bergantung pada beberapa faktor seperti kepadatan penduduk, tingkat ekonomi, ketersediaan makanan, kondisi lingkungan lokal, kondisi kesehatannya itu sendiri, dan kualitas serta ketersediaan fasilitas kesehatan publik.
Wabah demam berdarah yang melanda negeri kita menyiratkan betapa rentannya kondisi kesehatan-lingkungan di Indonesia saat ini, baik dilihat dari sisi antisipasi terhadap wabah, kesigapan peanggulangannya sampai pada penanganan para penderita yang kurang mampu. Merebaknya wabah di kawasan urban juga menyiratkan kerentanan kondisi lingkungan dan kerentanan sosial-ekonomi. Hal ini terkait dengan patron penggunaan lahan, kepadatan penduduk, urbanisasi, meningkatnya kemiskinan di kawasan urban, selain faktor lain seperti rendahnya pemberantasan nyamuk vektor penyakit sejak dini, atau resistensi nyamuk sampai kemungkinan munculnya strain atau jenis virus baru.
Pada dekade lalu penelitian ilmiah yang menghubungkan pengaruh perubahan iklim global terhadap kesehatan dapat dirangkum dalam tiga katagori besar. Pertama, studi-studi empiris untuk mencari saling-hubungan antara kecenderungan dan variasi iklim dengan keadaan kesehatan. Kedua, studi-studi untuk mengumpulkan bukti-bukti munculnya masalah kesehatan sebagai akibat perubahan iklim. Ketiga, studi-studi pemodelan kondisi kesehatan di masa depan. Penelitian empiris jenis pertama dan kedua dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan pengetahuan serta memperkirakan kondisi kesehatan sebagai tanggapan terhadap perubahan iklim dan lingkungan (scenario-based health risk assessment).
Akan tetapi, menimbang variasi kerentanan sosial-ekonomi yang telah kita singgung, keberhasilan sumbangan ilmiah di atas hanya akan optimal jika didukung paling tidak dua faktor lain, yaitu faktor administratif-legislatif dan faktor cultural-personal (kebiasaan hidup). Administrasi-legislasi adalah pembuatan aturan yang memaksa semua orang atau beberapa kalangan tertentu untuk melakukan tindakan-tindakan preventif dan penanggulangan menghadapi masalah ini. Cakupan kerja faktor ini adalah dari mulai tingkatan supra-nasional, nasional sampai tingkat komunitas tertentu. Selanjutnya secara kultural-personal masyarakat didorong secara sadar dan sukarela untuk melakukan aksi-aksi yang mendukung kesehatan-lingkungan melalui advokasi, pendidikan atau insentif ekonomi. Faktor ini dikerjakan dari tingkatan supra-nasional sampai tingkat individu.
D. Upaya yang Dapat Dilakukan
Aktifitas penelitian yang menghubungkan kajian lingkungan dan kesehatan secara integral serta kerja praktis sistematis dari hasil penelitian ilmiah di atas masih sangat sedikit dilakukan di Indonesia. Menghadapi tantangan lingkungan dan kesehatan ini diperlukan terobosan-terobosan institusional baru diantara lembaga terkait lingkungan hidup dan kesehatan, misalnya dilakukan rintisan kerjasama intensif yang diprakarsai Departemen Kesehatan, Departemen Sosial dan Kementerian Lingkungan Hidup bersama lembaga penyedia data keruangan seperti Bakosurtanal (pemetaan) dan LAPAN (analisa melalui citra satelit). Untuk mewujudkan kerjasama di tataran praktis komunitas atau LSM pemerhati lingkungan hidup mesti berkolaborasi dengan Ikatan Dokter Indonesia bersama asosiasi profesi seperti Ikatan Surveyor Indonesia (ISI), Masyarakat Penginderaan Jauh (MAPIN) dalam mewujudkan agenda-agenda penelitian dan program-program penanganan permasalahan kesehatan dan perubahan lingkungan di tingkat lokal hingga nasional.
Hadirnya wacana dan penelitian sosial budaya dengan kompleksitas, ketidakpastian konsep-metodologi, dan perubahan-perubahan besar di masa depan, telah menghadirkan tantangan-tantangan dan tugas-tugas bagi komunitas ilmiah, masyarakat dan para pengambil keputusan. Penelitian ilmiah yang cenderung lamban, kini harus berganti dengan usaha-usaha terarah dan cepat menghadapi urgensi penanganan masalah kesehatan-lingkungan. Kemudian dalam gerak cepat pula informasi yang dihasilkan dunia ilmiah, walaupun dengan segala ketidaksempurnaan dan asumsi-asumsi, didorong untuk memasuki arena kebijakan. Masalah kesehatan dan GEC ini merupakan isu krusial dan bahkan isu sentral dalam diskursus internasional seputar pembangunan yang berkelanjutan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar